PENTINGNYA MEMAHAMI PSIKOLOGI PERKEMBANGAN ANAK USIA DINI
Berbicara mengenai masalah anak tidak akan ada habis nya, terkadang membuat orang tua menjdi bingung dan panik. Langkah paling bijak adalah memahami setiap psikologi yang ditunjukkan pada anak.
Memahami psikologi perkembangan anak usia dini adalah sebuah keharusan baik bagi para orang tua maupun guru-guru, masa anak usia dini merupakan masa penting dalam perkembangan anak itu sendiri. Pada masa emas tersebut anak mulai sensitif terhadap berbagai rangsangan, setiap anak secara individual akan mempunyai tingkat perkembangan kepekaan yang berbeda-beda seiring perkembangan dan pertumbuhan masing-masing anak.
Mengenal psikologi perkembangan anak usia dini
Perkembangan anak dan pertumbuhannya mempunyai keterkaitan karena perkembangan fisik dan motorik berhubungan dengan perkembangan psikisnya, karena itu psikologi perkembangan tersebut tidak dapat dipisahkan dengan perkembangan dan pertumbuhan anak tersebut secara menyeluruh.
Pada masa emas tersebut seorang anak akan mengalami pertumbuhan dan perkembangan pada tingkat yang drastis yang mencakup perkembangan berfikir, perkembangan motorik, perkembangan emosi, perkembangan sosial dan tentu saja perkembangan fisiknya. Masa ini terjadi pada usia 0 sampai 8 tahun dan pada periode berikutnya tidak akan terjadi lagi lonjakan perkembangan tersebut. Oleh karena itu setiap orang tua harus memberikan perhatian khusus pada usia penting dalam perkembangan seorang anak karena nantinya akan memberikan pengaruh pada perkembangan dan kehidupan anak di masa berikutnya.
Memahami psikologi perkembangan anak usia dini
Pemahaman akan hal tersebut akan sangat membantu orang tua dalam mendukung pertumbuhan dan perkembangan anak secara keseluruhan, setiap anak pada usia dini akan mengalami perkembangan pada beberapa aspek penting dalam kehidupannya. Diantaranya sebagai berikut :
Perkembangan kognitif
Perkembangan kemampuan kognitif anak terjadi dalam empat tahap yaitu tahap sensor motor yang terjadi saat usia anak 0-2 tahun, pada tahap ini seorang anak mulai memiliki kemampuan gerakan refleks. Tahap kedua adalah pra-operasional yang terjadi pada usia 2-7 tahun. Pada tahap pra-operasional ini anak akan mulai dapat menerima rangsangan namun sifatnya masih terbatas. Selanjutnya tahap konkret operasional yang terjadi pada usia 7-11 tahun dimana seorang anak sudah mulai dapat berfikir secara rasional dan mampu menjalankan operasional yang nyata. Tahap terakhir pada perkembangan kognitif adalah formal operasional dimana anak beranjak remaja. Pada tahap ini anak mampu berfikir dengan menggunakan hipotesa untuk memecahkan masalah.
Perkembangan fisik
Perkembangan fisik anak pada usia dini berkaitan dengan perkembangan motoriknya yang dibagi dalam perkembangan motorik halus dan motorik kasar.
Perkembangan bahasa
Ada tiga periode yang terjadi dalam perkembangan kemampuan bahasa seorang anak yaitu periode pre-lingual yang terjadi pada usia 0-1 tahun dimana anak sudah mulai mengoceh, periode lingual pada usia 1-2,5 tahun dimana anak sudah mampu membuat kalimat dan periode diferensiasi yang terjadi pada usia anak 2,5-5 tahun dimana seorang anal mempunyai kemapuan bahasa yang baik dan benar.
Perkembangan sosio-emosional
Perkembangan kemampuan sosio-emosional anak sangat penting dalam psikologi perkembangan anak usia dini karena pada perkembangan ini akan terbentuk rasa percaya diri dan perkembangan kemandirian dalam dirinya.
Juz 1 Ustad Abu Usaamah, Lc
Kamis, 03 Maret 2016
Aspek-Aspek Perkembangan Anak Usia Dini
Aspek-Aspek Perkembangan Anak Usia Dini
Aspek-Aspek Perkembangan Anak Usia Dini
Pada masa usia dini anak mengalami masa keemasan (the golden years) yang merupakan masa dimana anak mulai peka/sensitif untuk menerima berbagai rangsangan. Masa peka pada masing-masing anak berbeda, seiring dengan laju pertumbuhan dan perkembangan anak secara individual.
Masa peka adalah masa terjadinya kematangan fungsi fisik dan psikis yang siap merespon stimulasi yang diberikan oleh lingkungan. Masa ini juga merupakan masa peletak dasar untuk mengembangkan kemampuan kognitif, motorik, bahasa, sosio emosional, agama dan moral.
Beberapa Aspek-Aspek Perkembangan Anak Usia Dini :
1. Aspek Perkembangan Kognitif
Tahapan Perkembangan Kognitif sesuai dengan teori Piaget adalah: (1) Tahap sensorimotor, usia 0 –
2 tahun. Pada masa ini kemampuan anak terbatas pada gerak-gerak refleks, bahas awal, waktu sekarang dan ruang yang dekat saja; (2) Tahap pra-operasional, usia 2 – 7 tahun. Masa ini kemampuan menerima rangsangan yang terbatas. Anak mulai berkembang kemampuan bahasanya, walaupun pemikirannya masih statis dan belum dapat berpikir abstrak, persepsi waktu dan tempat masih terbatas; (3) Tahap konkret operasional, 7 – 11 tahun.
Pada tahap ini anak sudah mampu menyelesaikan tugas-tugas menggabungkan, memisahkan, menyusun, menderetkan, melipat dan membagi; (4) Tahap formal operasional, usia 11 – 15 tahun. Pada masa ini, anak sudah mampu berfikir tingkat tinggi, mampu berfikir abstrak.
2. Aspek Perkembangan Fisik
Perkembangan motorik merupakan perkembangan pengendalian gerakan jasmaniah melalui kegiatan pusat syaraf, urat syaraf dan otot terkoordinasi (Hurlock: 1998). Keterampilan motorik anak terdiri atas keterampilan motorik kasar dan keterampilan motorik halus. Keterampilan motorik anak usia 4-5 tahun lebih banyak berkembang pada motorik kasar, setelah usia 5 tahun baru.terjadi perkembangan motorik halus.
Baca juga : Perkembangan Fisik Anak Usia Dini
Pada usia 4 tahun anak-anak masih suka jenis gerakan sederhana seperti berjingkrak-jingkrak, melompat, dan berlari kesana kemari, hanya demi kegiatan itu sendiri tapi mereka sudah berani mengambil resiko. Walaupun mereka sudah dapat memanjat tangga dengan satu kaki pada setiap tiang anak tangga untuk beberapa lama, mereka baru saja mulai dapat turun dengan cara yang sama.
Pada usia 5 tahun, anak-anak bahkan lebih berani mengambil resiko dibandingkan ketika mereka berusia 4 tahun. Mereka lebih percaya diri melakukan ketangkasan yang mengerikan seperti memanjat suatu obyek, berlari kencang dan suka berlomba dengan teman sebayanya bahkan orangtuanya (Santrock,1995: 225)
3. Aspek Perkembangan Bahasa
Hart & Risley (Morrow, 1993) mengatakan umur 2 tahun, anak-anak memproduksi rata-rata dari 338 ucapan yang dapat dimengerti dalam setiap jam, cakupan lebih luas adalah antara rentangan 42 sampai 672. 2 tahun lebih tua anak-anak dapat mengunakan kira-kira 134 kata-kata pada jam yang berbeda, dengan rentangan 18 untuk 286.
Membaca dan menulis merupakan bagian dari belajar bahasa. Untuk bisa membaca dan menulis, anak perlu mengenal beberapa kata dan beranjak memahami kalimat. Dengan membaca anak juga semakin banyak menambah kosakata. Anak dapat belajar bahasa melalaui membaca buku cerita dengan nyaring. Hal ini dilakukan untuk mengajarkan anak tentang bunyi bahasa.
4. Aspek Perkembangan Sosio-Emosional
Masa TK merupakan masa kanak-kanak awal. Pola perilaku sosial yang terlihat pada masa kanak-kanak awal, seperti yang diungkap oleh Hurlock (1998:252) yaitu: kerjasama, persaingan, kemurahan hati, hasrat akan penerimaan sosial, simpati, empat, ketergantungan, sikap ramah, sikap tidak mementingkan diri sendiri, meniru, perilaku kelekatan.
Erik Erikson (1950) dalam Papalia dan Old, 2008:370 seorang ahli psikoanalisis mengidentifikasi perkembangan sosial anak: (1) Tahap 1: Basic Trust vs Mistrust (percaya vs curiga), usia 0-2 tahun.Dalam tahap ini bila dalam merespon rangsangan, anak mendapat pengalaman yang menyenamgkan akan tumbuh rasa percaya diri, sebaliknya pengalaman yang kurang menyenangkan akan menimbulkan rasa curiga; (2) Tahap 2 : Autonomy vs Shame & Doubt (mandiri vs ragu), usia 2-3 tahun. Anak sudah mampu menguasai kegiatan meregang atau melemaskan seluruh otot-otot tubuhnya.
Anak pada masa ini bila sudah merasa mampu menguasai anggota tubuhnya dapat meimbulkan rasa otonomi, sebaliknya bila lingkungan tidak memberi kepercayaan atau terlalu banyak bertindak untuk anak akan menimbulkan rasa malu dan ragu-ragu; (3) Tahap 3 : Initiative vs Guilt (berinisiatif vs bersalah), usia 4-5 tahun.
Pada masa ini anak dapat menunjukkan sikap mulai lepas dari ikatan orang tua, anak dapat bergerak bebas dan ber interaksi dengan lingkungannya. Kondisi lepas dari orang tua menimbulkan rasa untuk berinisiatif, sebaliknya dapat menimbulkan rasa bersalah; (4) Tahap 4 : industry vs inferiority (percaya diri vs rasa rendah diri), usia 6 tahun – pubertas.
Anak telah dapat melaksanakan tugas-tugas perkembangan untuk menyiapkan diri memasuki masa dewasa. Perlu memiliki suatu keterampilan tertentu. Bila anak mampu menguasai suatu keterampilan tertentu dapat menimbulkan rasa berhasil, sebaliknya bila tidak menguasai, menimbulkan rasa rendah diri.
Aspek-Aspek Perkembangan Anak Usia Dini
Rujukan :
Arya, P.K. 2008. Rahasia Mengasah Talenta Anak. Jogjakarta: Think
Hurlock, Elizabeth B. 1998. Psikologi Perkembangan, terj. Istiwidiyanti dan Soedjarwo. Jakarta: Erlangga
Anonym. 2007. Prinsip dan Praktek Pendidikan Anak Usia Dini. Jakarta: Direktorat PAUD
Papalia, Diane E, Etc. 2008. Human Development (Psikologi Perkembangan, terjemahan A. K. Anwar). Jakarta: Kencana Prenada Media Grup
Santrock W John. 1995. Life Span Development, Jakarta: PT Erlangga, 1995
Aspek-Aspek Perkembangan Anak Usia Dini
Pada masa usia dini anak mengalami masa keemasan (the golden years) yang merupakan masa dimana anak mulai peka/sensitif untuk menerima berbagai rangsangan. Masa peka pada masing-masing anak berbeda, seiring dengan laju pertumbuhan dan perkembangan anak secara individual.
Masa peka adalah masa terjadinya kematangan fungsi fisik dan psikis yang siap merespon stimulasi yang diberikan oleh lingkungan. Masa ini juga merupakan masa peletak dasar untuk mengembangkan kemampuan kognitif, motorik, bahasa, sosio emosional, agama dan moral.
Beberapa Aspek-Aspek Perkembangan Anak Usia Dini :
1. Aspek Perkembangan Kognitif
Tahapan Perkembangan Kognitif sesuai dengan teori Piaget adalah: (1) Tahap sensorimotor, usia 0 –
2 tahun. Pada masa ini kemampuan anak terbatas pada gerak-gerak refleks, bahas awal, waktu sekarang dan ruang yang dekat saja; (2) Tahap pra-operasional, usia 2 – 7 tahun. Masa ini kemampuan menerima rangsangan yang terbatas. Anak mulai berkembang kemampuan bahasanya, walaupun pemikirannya masih statis dan belum dapat berpikir abstrak, persepsi waktu dan tempat masih terbatas; (3) Tahap konkret operasional, 7 – 11 tahun.
Pada tahap ini anak sudah mampu menyelesaikan tugas-tugas menggabungkan, memisahkan, menyusun, menderetkan, melipat dan membagi; (4) Tahap formal operasional, usia 11 – 15 tahun. Pada masa ini, anak sudah mampu berfikir tingkat tinggi, mampu berfikir abstrak.
2. Aspek Perkembangan Fisik
Perkembangan motorik merupakan perkembangan pengendalian gerakan jasmaniah melalui kegiatan pusat syaraf, urat syaraf dan otot terkoordinasi (Hurlock: 1998). Keterampilan motorik anak terdiri atas keterampilan motorik kasar dan keterampilan motorik halus. Keterampilan motorik anak usia 4-5 tahun lebih banyak berkembang pada motorik kasar, setelah usia 5 tahun baru.terjadi perkembangan motorik halus.
Baca juga : Perkembangan Fisik Anak Usia Dini
Pada usia 4 tahun anak-anak masih suka jenis gerakan sederhana seperti berjingkrak-jingkrak, melompat, dan berlari kesana kemari, hanya demi kegiatan itu sendiri tapi mereka sudah berani mengambil resiko. Walaupun mereka sudah dapat memanjat tangga dengan satu kaki pada setiap tiang anak tangga untuk beberapa lama, mereka baru saja mulai dapat turun dengan cara yang sama.
Pada usia 5 tahun, anak-anak bahkan lebih berani mengambil resiko dibandingkan ketika mereka berusia 4 tahun. Mereka lebih percaya diri melakukan ketangkasan yang mengerikan seperti memanjat suatu obyek, berlari kencang dan suka berlomba dengan teman sebayanya bahkan orangtuanya (Santrock,1995: 225)
3. Aspek Perkembangan Bahasa
Hart & Risley (Morrow, 1993) mengatakan umur 2 tahun, anak-anak memproduksi rata-rata dari 338 ucapan yang dapat dimengerti dalam setiap jam, cakupan lebih luas adalah antara rentangan 42 sampai 672. 2 tahun lebih tua anak-anak dapat mengunakan kira-kira 134 kata-kata pada jam yang berbeda, dengan rentangan 18 untuk 286.
Membaca dan menulis merupakan bagian dari belajar bahasa. Untuk bisa membaca dan menulis, anak perlu mengenal beberapa kata dan beranjak memahami kalimat. Dengan membaca anak juga semakin banyak menambah kosakata. Anak dapat belajar bahasa melalaui membaca buku cerita dengan nyaring. Hal ini dilakukan untuk mengajarkan anak tentang bunyi bahasa.
4. Aspek Perkembangan Sosio-Emosional
Masa TK merupakan masa kanak-kanak awal. Pola perilaku sosial yang terlihat pada masa kanak-kanak awal, seperti yang diungkap oleh Hurlock (1998:252) yaitu: kerjasama, persaingan, kemurahan hati, hasrat akan penerimaan sosial, simpati, empat, ketergantungan, sikap ramah, sikap tidak mementingkan diri sendiri, meniru, perilaku kelekatan.
Erik Erikson (1950) dalam Papalia dan Old, 2008:370 seorang ahli psikoanalisis mengidentifikasi perkembangan sosial anak: (1) Tahap 1: Basic Trust vs Mistrust (percaya vs curiga), usia 0-2 tahun.Dalam tahap ini bila dalam merespon rangsangan, anak mendapat pengalaman yang menyenamgkan akan tumbuh rasa percaya diri, sebaliknya pengalaman yang kurang menyenangkan akan menimbulkan rasa curiga; (2) Tahap 2 : Autonomy vs Shame & Doubt (mandiri vs ragu), usia 2-3 tahun. Anak sudah mampu menguasai kegiatan meregang atau melemaskan seluruh otot-otot tubuhnya.
Anak pada masa ini bila sudah merasa mampu menguasai anggota tubuhnya dapat meimbulkan rasa otonomi, sebaliknya bila lingkungan tidak memberi kepercayaan atau terlalu banyak bertindak untuk anak akan menimbulkan rasa malu dan ragu-ragu; (3) Tahap 3 : Initiative vs Guilt (berinisiatif vs bersalah), usia 4-5 tahun.
Pada masa ini anak dapat menunjukkan sikap mulai lepas dari ikatan orang tua, anak dapat bergerak bebas dan ber interaksi dengan lingkungannya. Kondisi lepas dari orang tua menimbulkan rasa untuk berinisiatif, sebaliknya dapat menimbulkan rasa bersalah; (4) Tahap 4 : industry vs inferiority (percaya diri vs rasa rendah diri), usia 6 tahun – pubertas.
Anak telah dapat melaksanakan tugas-tugas perkembangan untuk menyiapkan diri memasuki masa dewasa. Perlu memiliki suatu keterampilan tertentu. Bila anak mampu menguasai suatu keterampilan tertentu dapat menimbulkan rasa berhasil, sebaliknya bila tidak menguasai, menimbulkan rasa rendah diri.
Aspek-Aspek Perkembangan Anak Usia Dini
Rujukan :
Arya, P.K. 2008. Rahasia Mengasah Talenta Anak. Jogjakarta: Think
Hurlock, Elizabeth B. 1998. Psikologi Perkembangan, terj. Istiwidiyanti dan Soedjarwo. Jakarta: Erlangga
Anonym. 2007. Prinsip dan Praktek Pendidikan Anak Usia Dini. Jakarta: Direktorat PAUD
Papalia, Diane E, Etc. 2008. Human Development (Psikologi Perkembangan, terjemahan A. K. Anwar). Jakarta: Kencana Prenada Media Grup
Santrock W John. 1995. Life Span Development, Jakarta: PT Erlangga, 1995
Pendidikan Anak Usia Dini Pantas Mendapat Perhatian Lebih
Pendidikan Anak Usia Dini Pantas Mendapat Perhatian Lebih
Para pakar dan pembuat kebijakan berkumpul untuk membahas peran lingkungan rumah, masyarakat dan sekolah dalam mendukung perkembangan anak usia dini di Indonesia dan kawasan Asia Pasifik
Jakarta, 5 November, 2012 – Para pakar pendidikan internasional dan pembuat kebijakan akan berkumpul di Jakarta untuk membahas pendidikan anak usia dini.
Para pakar berpendapat bahwa pendidikan usia dini sangat penting, seperti halnya peran keluarga, masyarakat dan sekolah, untuk memastikan bahwa anak-anak prasekolah dan sekolah dasar memiliki landasan yang kokoh untuk belajar seumur hidup.
"Anak-anak yang mendapat pendidik usia dini memperlihatkan perkembangan fisik, sosio-emosional dan kognitif jauh lebih besar dari anaks-anak yang tidak layanan tersebut,” kata Stefan Koeberle, Kepala Perwakilan Bank Dunia untuk Indonesia. “Dengan meningkatkan akses terhadap pendidikan anak usia dini, generasi-generasi penerus Indonesia akan lebih berhasil di sekolah dan dapat meraih taraf hidup yang lebih berkualitas.”
Baik secara global maupun di negara-negara Asia dan Pasifik, kelompok yang paling rentan tidak naik kelas dan putus sekolah adalah anak-anak pada tahun-tahun pertama sekolah dasar.
Sejak tahun 2007, dengan dukungan Pemerintah Kerajaan Belanda dan Bank Dunia, Pemerintah Indonesia telah meningkatkan akses pada layanan Pendidikan dan Pengembangan Anak Usia Dini (PPAUD) bagi masyarakat berpenghasilan rendah, guna memperkuat kapasitas para murid ketika mulai sekolah. Di desa-desa yang menerima manfaat proyek ini, anak-anak menunjukkan kemampuan berbahasa dan perkembangan kognitif yang lebih baik, serta angka pendaftaran yang terus meningkat.
“Riset menunjukkan bahwa investasi pendidikan pada usia dini menghasilkan manfaat yang lebih baik dibandikan dengan investasi pada tingkat usia lainnya. Praktisi, pembuat kebijakan dan para ahli harus bekerjasama untuk memperkuat agenda Pendidikan Anak Usia Dini guna meraih hasil yang lebih baik,” kata Mae Chu Chang, Ahli Pendidikan Utama, Bank Dunia Indonesia.
Konferensi ini menggabungkan sekitar 250 para pakar PAUD dan berlangsung sampai tanggal 7 November dan diselenggarakan bersama oleh Bank Dunia, Jaringan Regional Asia Pasifik untuk Anak Usia Dini (ARNEC), Koalisi Nasional untuk Pengasuhan dan Pengembangan Anak Usia Dini Indonesia, Pemerintah Kerajaan Belanda dan Uni Eropa.
Tujuan Pembangunan Millenium (MDGs) merupakan salah satu komitmen yang paling berpengaruh terhadap anak di seluruh dunia melalui penurunan angka kematian anak dan peningkatan partisipasi anak pada pendidikan. Pembahasan regional tentang bagaimana PAUD dapat berperan dalam agenda pasca MDGs, yang akan berakhir pada tahun 2015, turut menjadi agenda utama konferensi ini.
“Hasil-hasil konferensi ini akan membuka jalan bagi Forum Kebijakan Menteri tingkat tinggi yang akan diselenggarakan pada bulan Juni 2013 di Seoul, Korea. Kita memiliki kesempatan untuk mencapai kemajuan dalam agenda ini,” kata Junko Miyahara, Koordinator ARNEC.
Para pakar dan pembuat kebijakan berkumpul untuk membahas peran lingkungan rumah, masyarakat dan sekolah dalam mendukung perkembangan anak usia dini di Indonesia dan kawasan Asia Pasifik
Jakarta, 5 November, 2012 – Para pakar pendidikan internasional dan pembuat kebijakan akan berkumpul di Jakarta untuk membahas pendidikan anak usia dini.
Para pakar berpendapat bahwa pendidikan usia dini sangat penting, seperti halnya peran keluarga, masyarakat dan sekolah, untuk memastikan bahwa anak-anak prasekolah dan sekolah dasar memiliki landasan yang kokoh untuk belajar seumur hidup.
"Anak-anak yang mendapat pendidik usia dini memperlihatkan perkembangan fisik, sosio-emosional dan kognitif jauh lebih besar dari anaks-anak yang tidak layanan tersebut,” kata Stefan Koeberle, Kepala Perwakilan Bank Dunia untuk Indonesia. “Dengan meningkatkan akses terhadap pendidikan anak usia dini, generasi-generasi penerus Indonesia akan lebih berhasil di sekolah dan dapat meraih taraf hidup yang lebih berkualitas.”
Baik secara global maupun di negara-negara Asia dan Pasifik, kelompok yang paling rentan tidak naik kelas dan putus sekolah adalah anak-anak pada tahun-tahun pertama sekolah dasar.
Sejak tahun 2007, dengan dukungan Pemerintah Kerajaan Belanda dan Bank Dunia, Pemerintah Indonesia telah meningkatkan akses pada layanan Pendidikan dan Pengembangan Anak Usia Dini (PPAUD) bagi masyarakat berpenghasilan rendah, guna memperkuat kapasitas para murid ketika mulai sekolah. Di desa-desa yang menerima manfaat proyek ini, anak-anak menunjukkan kemampuan berbahasa dan perkembangan kognitif yang lebih baik, serta angka pendaftaran yang terus meningkat.
“Riset menunjukkan bahwa investasi pendidikan pada usia dini menghasilkan manfaat yang lebih baik dibandikan dengan investasi pada tingkat usia lainnya. Praktisi, pembuat kebijakan dan para ahli harus bekerjasama untuk memperkuat agenda Pendidikan Anak Usia Dini guna meraih hasil yang lebih baik,” kata Mae Chu Chang, Ahli Pendidikan Utama, Bank Dunia Indonesia.
Konferensi ini menggabungkan sekitar 250 para pakar PAUD dan berlangsung sampai tanggal 7 November dan diselenggarakan bersama oleh Bank Dunia, Jaringan Regional Asia Pasifik untuk Anak Usia Dini (ARNEC), Koalisi Nasional untuk Pengasuhan dan Pengembangan Anak Usia Dini Indonesia, Pemerintah Kerajaan Belanda dan Uni Eropa.
Tujuan Pembangunan Millenium (MDGs) merupakan salah satu komitmen yang paling berpengaruh terhadap anak di seluruh dunia melalui penurunan angka kematian anak dan peningkatan partisipasi anak pada pendidikan. Pembahasan regional tentang bagaimana PAUD dapat berperan dalam agenda pasca MDGs, yang akan berakhir pada tahun 2015, turut menjadi agenda utama konferensi ini.
“Hasil-hasil konferensi ini akan membuka jalan bagi Forum Kebijakan Menteri tingkat tinggi yang akan diselenggarakan pada bulan Juni 2013 di Seoul, Korea. Kita memiliki kesempatan untuk mencapai kemajuan dalam agenda ini,” kata Junko Miyahara, Koordinator ARNEC.
PENTINGNYA PENDIDIKAN ANAK USIA DINI
Pentingnya Pendidikan Anak Usia Dini
Pendidikan adalah merupakan aset penting bagi kemajuan sebuah bangsa, oleh karena itu setiap warga Negara harus dan wajib mengikuti jenjang pendidikan, baik jenjang pendidikan anak usia dini, pendidikan dasar, pendidikan menengah maupun tinggi. Dalam bidang pendidikan seorang anak dari lahir memerlukan pelayanan yang tepat dalam pemenuhan kebutuhan pendidikan disertai dengan Pemahaman mengenai karakteristik anak sesuai pertumbuhan dan perkembangannya akan sangat membantu dalam menyesuaikan proses belajar bagi anak dengan usia, kebutuhan, dan kondisi masing-masing, baik secara intelektual, emosional dan sosial.
Sebelum bicara lebih jauh, apa sih pendidikan anak usia dini? Pendidikan anak usia dini (PAUD) adalah jenjang pendidikan sebelum jenjang pendidikan dasar yang merupakan suatu upaya pembinaan yang ditujukan bagianak sejak lahir sampai dengan usia enam tahun yang dilakukan melalui pemberian rangsangan pendidikan untuk membantu pertumbuhan dan perkembangan jasmani dan rohani agar anak memiliki kesiapan dalam memasuki pendidikan lebih lanjut, yang diselenggarakan pada jalur formal, nonformal, dan informal.
Mengapa pendidikan anak usia dini itu sangat penting?
Berdasarkan hasil penelitian sekitar 50% kapabilitaas kecerdasan orang dewasa telah terjadi ketika anak berumur 4 tahun,8 0% telah terjadi perkembangan yang pesat tentang jaringan otak ketika anak berumur 8 tahun dan mencapai puncaknya ketika anak berumur 18 tahun, dan setelah itu walaupun dilakukan perbaikan nutrisi tidak akan berpengaruh terhadap perkembangan kognitif.
Hal ini berarti bahwa perkembangan yang terjadi dalam kurun waktu 4 tahun pertama sama besarnya dengan perkembangan yang terjadi pada kurun waktu 14 tahun berikutnya. Sehingga periode ini merupakan periode kritis bagi anak, dimana perkembangan yang diperoleh pada periode ini sangat berpengaruh terhadap perkembangan periode berikutnya hingga masa dewasa. Sementara masa emas ini hanya datang sekali, sehingga apabila terlewatkan berarti habislah peluangnya.
Pendidikan adalah merupakan aset penting bagi kemajuan sebuah bangsa, oleh karena itu setiap warga Negara harus dan wajib mengikuti jenjang pendidikan, baik jenjang pendidikan anak usia dini, pendidikan dasar, pendidikan menengah maupun tinggi. Dalam bidang pendidikan seorang anak dari lahir memerlukan pelayanan yang tepat dalam pemenuhan kebutuhan pendidikan disertai dengan Pemahaman mengenai karakteristik anak sesuai pertumbuhan dan perkembangannya akan sangat membantu dalam menyesuaikan proses belajar bagi anak dengan usia, kebutuhan, dan kondisi masing-masing, baik secara intelektual, emosional dan sosial.
Sebelum bicara lebih jauh, apa sih pendidikan anak usia dini? Pendidikan anak usia dini (PAUD) adalah jenjang pendidikan sebelum jenjang pendidikan dasar yang merupakan suatu upaya pembinaan yang ditujukan bagianak sejak lahir sampai dengan usia enam tahun yang dilakukan melalui pemberian rangsangan pendidikan untuk membantu pertumbuhan dan perkembangan jasmani dan rohani agar anak memiliki kesiapan dalam memasuki pendidikan lebih lanjut, yang diselenggarakan pada jalur formal, nonformal, dan informal.
Mengapa pendidikan anak usia dini itu sangat penting?
Berdasarkan hasil penelitian sekitar 50% kapabilitaas kecerdasan orang dewasa telah terjadi ketika anak berumur 4 tahun,8 0% telah terjadi perkembangan yang pesat tentang jaringan otak ketika anak berumur 8 tahun dan mencapai puncaknya ketika anak berumur 18 tahun, dan setelah itu walaupun dilakukan perbaikan nutrisi tidak akan berpengaruh terhadap perkembangan kognitif.
Hal ini berarti bahwa perkembangan yang terjadi dalam kurun waktu 4 tahun pertama sama besarnya dengan perkembangan yang terjadi pada kurun waktu 14 tahun berikutnya. Sehingga periode ini merupakan periode kritis bagi anak, dimana perkembangan yang diperoleh pada periode ini sangat berpengaruh terhadap perkembangan periode berikutnya hingga masa dewasa. Sementara masa emas ini hanya datang sekali, sehingga apabila terlewatkan berarti habislah peluangnya.
MEMBANGUNN KARAKTER SEJAK DINI
Kawan, jika saya ditanya kapan sih waktu yang tepat untuk menentukan kesuksesan dan keberhasilan seseorang? Maka, jawabnya adalah saat masih usia dini. Benarkah? Baiklah akan saya bagikan sebuah fakta yang telah banyak diteliti oleh para peneliti dunia.
Pada usia dini 0-6 tahun, otak berkembang sangat cepat hingga 80 persen. Pada usia tersebut otak menerima dan menyerap berbagai macam informasi, tidak melihat baik dan buruk. Itulah masa-masa yang dimana perkembangan fisik, mental maupun spiritual anak akan mulai terbentuk. Karena itu, banyak yang menyebut masa tersebut sebagai masa-masa emas anak (golden age).
Sebuah penelitian yang dilakukan oleh seorang ahli Perkembangan dan Perilaku Anak dari Amerika bernama Brazelton menyebutkan bahwa pengalaman anak pada bulan dan tahun pertama kehidupannya sangat menentukan apakah anak ini akan mampu menghadapi tantangan dalam kehidupannya dan apakah ia akan menunjukkan semangat tinggi untuk belajar dan berhasil dalam pekerjaannya.
Nah, oleh karena itu, kita sebagai orang tua hendaknya memanfaatkan masa emas anak untuk memberikan pendidikan karakter yang baik bagi anak. Sehingga anak bisa meraih keberhasilan dan kesuksesan dalam kehidupannya di masa mendatang. Kita sebagai orang tua kadang tidak sadar, sikap kita pada anak justru akan menjatuhkan si anak. Misalnya, dengan memukul, memberikan pressure yang pada akhirnya menjadikan anak bersikap negatif, rendah diri atau minder, penakut dan tidak berani mengambil resiko, yang pada akhirnya karakter-karakter tersebut akan dibawanya sampai ia dewasa. Ketika dewasa karakter semacam itu akan menjadi penghambat baginya dalam meraih dan mewujudkan keinginannya. Misalnya, tidak bisa menjadi seorang public speaker gara-gara ia minder atau malu. Tidak berani mengambil peluang tertentu karena ia tidak mau mengambil resiko dan takut gagal. Padahal, jika dia bersikap positif maka resiko bisa diubah sebagai tantangan untuk meraih keberhasilan. Anda setuju kan?
Pada usia dini 0-6 tahun, otak berkembang sangat cepat hingga 80 persen. Pada usia tersebut otak menerima dan menyerap berbagai macam informasi, tidak melihat baik dan buruk. Itulah masa-masa yang dimana perkembangan fisik, mental maupun spiritual anak akan mulai terbentuk. Karena itu, banyak yang menyebut masa tersebut sebagai masa-masa emas anak (golden age).
Sebuah penelitian yang dilakukan oleh seorang ahli Perkembangan dan Perilaku Anak dari Amerika bernama Brazelton menyebutkan bahwa pengalaman anak pada bulan dan tahun pertama kehidupannya sangat menentukan apakah anak ini akan mampu menghadapi tantangan dalam kehidupannya dan apakah ia akan menunjukkan semangat tinggi untuk belajar dan berhasil dalam pekerjaannya.
Nah, oleh karena itu, kita sebagai orang tua hendaknya memanfaatkan masa emas anak untuk memberikan pendidikan karakter yang baik bagi anak. Sehingga anak bisa meraih keberhasilan dan kesuksesan dalam kehidupannya di masa mendatang. Kita sebagai orang tua kadang tidak sadar, sikap kita pada anak justru akan menjatuhkan si anak. Misalnya, dengan memukul, memberikan pressure yang pada akhirnya menjadikan anak bersikap negatif, rendah diri atau minder, penakut dan tidak berani mengambil resiko, yang pada akhirnya karakter-karakter tersebut akan dibawanya sampai ia dewasa. Ketika dewasa karakter semacam itu akan menjadi penghambat baginya dalam meraih dan mewujudkan keinginannya. Misalnya, tidak bisa menjadi seorang public speaker gara-gara ia minder atau malu. Tidak berani mengambil peluang tertentu karena ia tidak mau mengambil resiko dan takut gagal. Padahal, jika dia bersikap positif maka resiko bisa diubah sebagai tantangan untuk meraih keberhasilan. Anda setuju kan?
CIRI - CIRI KETERLAMBATAN PERKEMBANGAN PADA ANAK
Berikut ini ciri-ciri keterlambatan perkembangan pada anak :
1) Keterlambatan perkembangan anak usia 13 bulan
Belum punya kemampuan menggenggam atau memindahkan barang dari satu tangan ke tangan satunya.
Masih belum bisa duduk.
Belum dapat mengangkat badannya untuk berdiri.
Belum dapat merangkak atau berjalan merayap.
Tidak dapat membedakan orang-orang yang dikenalnya dengan baik dan orang lain.
Tidak memberikan perhatian apa pun pada isyarat tangan.
Tidak dapat mengikuti petunjuk sederhana.
Benar-benar tidak tertarik pada permainan bersama.
Masih membuat suara-suara menggunakan kata-kata vokal dan konsonan.
Tidak menirukan suara-suara.
Tidak berkedip saat ada benda bergerak cepat ke arah matanya.
2) Keterlambatan perkembangan anak usia 18 bulan
Masih belum menunjukkan minatnya pada orang atau mainan dan terlihat tidak memahami fungsi dari barang-barang rumah tangga yang umum (sebagai contoh, telepon, sikat gigi, sendok makan).
Belum dapat berdiri tanpa bantun.
Belum dapat berjalan.
Belum dapat mengenali pola-pola dasar rutinitas harian dalam keluarga.
Belum terlihat mengerti kata-kata anda.
Berkata-kata kurang dari 15 kata.
Tidak berusaha meniru perilaku dan kata-kata anda.
Tidak memperlihatkan keinginan menempel pada anda.
Tidak menunjukkan berbagai emosi, termasuk marah, senang dan takut.
3) Keterlambatan perkembangan anak usia 24 bulan
Tidak mengenal dirinya di depan cermin.
Tidak memperlihatkan minat apapun pada gambar-gambar atau benda-benda umum.
Belum mengembangakan suatu pola berjalan yang wajar (sebagai contoh, dia berjingkat bukannya berjalan). Tidak dapat makan sendiri.
Tidak dapat melepas sendiri pakaian, sepatu atau kaos kakinya.
Tidak dapat memakai kalimat dua kata.
Tidak mengerti cara mengelompokkan atau memisahkan benda-benda.
Tidak tertarik dalam suatu permainan meniru.
Tidak menunjukkan rasa bangga prestasinya.
4) Keterlambatan perkembangan anak usia 36 bulan
Sering ngiler atau kata-katanya tidak jelas.
Tidak dapat berbicara dengan baik yang dapat dimengerti orang lain.
Belum dapat menggunakan kalimat dengan tiga-empat kata.
Belum dapat mengajukan pertanyaan.
Belum dapat memahami dan mengikuti perintah dan petunjuk sederhana.
Belum dapat mengucapkan namanya.
Tidak terlihat menikmati bermain di dekat anak lain.
Tidak tertarik dengan permainan "pura-pura".
Tidak dapat fokus pada kegiatan yang disukainya bahkan untuk 5-10 menit.
Tidak dapat membuat bangun balok lebih dari empat buah.
Sulit untuk memegang benda-benda kecil.
Tidak dapat menggambar bentuk lingkaran.
Sering terjatuh atau sangat kesulitan menggunakan tangga.
Tidak dapat melomoat-lompat tanpa terjatuh.
Tidak dapat menjaga keseimbangan di atas satu kaki.
Masih perlu bantuan untuk memakai pakaiannya.
Sangat kesulitan untuk jauh dari anda.
Jika anak didiagnosis mengalami keterlambatan perkembangan.
Hal tersebut bukan salah orang tua, sehingga tidak perlu merasa bersalah karenannya.
Jangan selalu membandingkan dengan anak lain yang seusianya, karena seyiap perkembangan anak berbeda-beda.
Stimulasi anak dengan permainan-permainan yang relevan dan bisa dimainkan anak.
Kemungkinan kognitif anak sudah siap menerima rangsangan atau menjalankan tugas tertentu, namun secara fisik belum siap.
Motivasi dan berikan pujian manakala anak meraih prestasi dalam perkembangannya.
Fokus pada perkembangan anak saat ini janlgan terlalu mengkhawatirkan masa depannya nanti.
1) Keterlambatan perkembangan anak usia 13 bulan
Belum punya kemampuan menggenggam atau memindahkan barang dari satu tangan ke tangan satunya.
Masih belum bisa duduk.
Belum dapat mengangkat badannya untuk berdiri.
Belum dapat merangkak atau berjalan merayap.
Tidak dapat membedakan orang-orang yang dikenalnya dengan baik dan orang lain.
Tidak memberikan perhatian apa pun pada isyarat tangan.
Tidak dapat mengikuti petunjuk sederhana.
Benar-benar tidak tertarik pada permainan bersama.
Masih membuat suara-suara menggunakan kata-kata vokal dan konsonan.
Tidak menirukan suara-suara.
Tidak berkedip saat ada benda bergerak cepat ke arah matanya.
2) Keterlambatan perkembangan anak usia 18 bulan
Masih belum menunjukkan minatnya pada orang atau mainan dan terlihat tidak memahami fungsi dari barang-barang rumah tangga yang umum (sebagai contoh, telepon, sikat gigi, sendok makan).
Belum dapat berdiri tanpa bantun.
Belum dapat berjalan.
Belum dapat mengenali pola-pola dasar rutinitas harian dalam keluarga.
Belum terlihat mengerti kata-kata anda.
Berkata-kata kurang dari 15 kata.
Tidak berusaha meniru perilaku dan kata-kata anda.
Tidak memperlihatkan keinginan menempel pada anda.
Tidak menunjukkan berbagai emosi, termasuk marah, senang dan takut.
3) Keterlambatan perkembangan anak usia 24 bulan
Tidak mengenal dirinya di depan cermin.
Tidak memperlihatkan minat apapun pada gambar-gambar atau benda-benda umum.
Belum mengembangakan suatu pola berjalan yang wajar (sebagai contoh, dia berjingkat bukannya berjalan). Tidak dapat makan sendiri.
Tidak dapat melepas sendiri pakaian, sepatu atau kaos kakinya.
Tidak dapat memakai kalimat dua kata.
Tidak mengerti cara mengelompokkan atau memisahkan benda-benda.
Tidak tertarik dalam suatu permainan meniru.
Tidak menunjukkan rasa bangga prestasinya.
4) Keterlambatan perkembangan anak usia 36 bulan
Sering ngiler atau kata-katanya tidak jelas.
Tidak dapat berbicara dengan baik yang dapat dimengerti orang lain.
Belum dapat menggunakan kalimat dengan tiga-empat kata.
Belum dapat mengajukan pertanyaan.
Belum dapat memahami dan mengikuti perintah dan petunjuk sederhana.
Belum dapat mengucapkan namanya.
Tidak terlihat menikmati bermain di dekat anak lain.
Tidak tertarik dengan permainan "pura-pura".
Tidak dapat fokus pada kegiatan yang disukainya bahkan untuk 5-10 menit.
Tidak dapat membuat bangun balok lebih dari empat buah.
Sulit untuk memegang benda-benda kecil.
Tidak dapat menggambar bentuk lingkaran.
Sering terjatuh atau sangat kesulitan menggunakan tangga.
Tidak dapat melomoat-lompat tanpa terjatuh.
Tidak dapat menjaga keseimbangan di atas satu kaki.
Masih perlu bantuan untuk memakai pakaiannya.
Sangat kesulitan untuk jauh dari anda.
Jika anak didiagnosis mengalami keterlambatan perkembangan.
Hal tersebut bukan salah orang tua, sehingga tidak perlu merasa bersalah karenannya.
Jangan selalu membandingkan dengan anak lain yang seusianya, karena seyiap perkembangan anak berbeda-beda.
Stimulasi anak dengan permainan-permainan yang relevan dan bisa dimainkan anak.
Kemungkinan kognitif anak sudah siap menerima rangsangan atau menjalankan tugas tertentu, namun secara fisik belum siap.
Motivasi dan berikan pujian manakala anak meraih prestasi dalam perkembangannya.
Fokus pada perkembangan anak saat ini janlgan terlalu mengkhawatirkan masa depannya nanti.
Langganan:
Postingan (Atom)
